Kamis, 10 Agustus 2017

Cerita Karangan Syi‘ah?

Menyadur tulisan : Ust. Muhammad Bhagas
Tgl. tulisan : 28 Juli 2017

Judul : Cerita Karangan Syi‘ah?

Tak sedikit saudara-saudara kita yang (masih) menolak fakta sejarah Imam ‘Ali as dicaci maki oleh sebagian Bani Umayyah. Mengherankan, malah Syi‘ah yang dituduh membuat cerita itu. “Ah, itu fitnah dari Syi‘ah saja”, “Itu cerita karangan Syi‘ah”, seperti itu saya bahasakan sendiri. Ooh begitu, monggo baca ini dari kitab-kitab tarikh🙂

Ibnu al-Atsir dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh, jilid 4 halaman 314, mencatat: كان بنو أمية يسبون أمير المؤمنين علي بن أبي طالب عليه السلام إلى أن ولي عمر بن عبد العزيز الخلافة فترك ذلك وكتب إلى العامل في الآفاق بتركه

Tuh, Bani Umayyah mencaci maki Amirul Mu‘minin ‘Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam. Sampai masa pemerintahan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz perbuatan itu ditinggalkan. Ia menyampaikan ke jajarannya untuk meninggalkan caci maki itu.

Tambah lagi yaa dari kitab Tarikh Ibnu Khaldun, juz 3 halaman 94: وكان بنو أمية يسبون عليا فكتب عمر إلى الآفاق بترك ذلك

“Dulu Bani Umayyah mencaci maki Imam ‘Ali as, lalu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis kepada jajarannya himbauan untuk meninggalkan perbuatan itu” Oh iya, kutipan di atas menyebut “Bani Umayyah” jadi bersifat umum.

Ada nih yang bersifat khusus, menyebut pribadi-pribadi tertentu. Tenang, kutipanya masih dari kitab-kitab Sunni 😁 As-Sindy mensyarahkan riwayat Sunan Ibnu Majah no. 121: قوله : ( فنال منه ) أي نال معاوية من علي ووقع فيه وسبه بل أمر سعدا بالسب كما قيل في مسلم والترمذي.

“Perkataannya ‘fanaala minhu’ bermakna Mu‘awiyah mencela ‘Ali, berkata buruk tentangnya dan mencacinya bahkan ia memerintahkan Sa‘d untuk mencaci ‘Ali sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim dan Tirmidzi”

Dalam kitab al-Mathalib al-‘Aliyyah, jilid 18 halaman 265, Ibnu Hajar al-‘Asqalani menukil riwayat shahih no. 4455. Marwan bin Hakam setelah mencaci Imam Husain as, ia berkata: أهل بيت ملعونون

“Ahlul Bayt mal‘unun (orang-orang terkutuk)”

Sampai anak Imam ‘Ali as pun dicaci dam disebut terkutuk 😭

Jadi tidak perlu marah apalagi memfitnah kalau Syi‘ah mengungkap sejarah itu. Lagi pula itu bukan dari kitab-kitab Syi‘ah, tapi tercatat di kitab-kitab Sunni. Lucu, di satu sisi melarang bahkan mengkafirkan orang yang mencaci maki sahabat, tapi di sisi lain membela orang (Mu‘awiyah) yang mencaci maki Imam ‘Ali as, yang mana Imam ‘Ali as adalah sahabat sekaligus Ahlul Bayt as. Na‘udzu billah min dzalik 😭

Doa terbaik untuk semua orang yang dizhalimi. Terkhusus untuk saudara-saudara di Palestina dan Suriah! Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar! Aamiin.

______________

Referensi:
📘Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 4 hal. 314.
📘Ibnu Khaldun, Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fi Tarikh al-‘Arab wa al-Barbar wa ‘Asharahum min Dzawi al-Sulthan al-Akbar, juz 3 hal. 94.
📘Sunan Ibnu Majah, bi syarah as-Sindy, jld. 1 hal. 86, riwayat no. 121.
📘Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Mathalib al-‘Aliyah bi Zawa‘id al-Masanid al-Tsamaniyah, jld. 18 hal. 265, riwayat no. 4455.


Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 4 hal. 314.

Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 4 hal. 314.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Mathalib al-‘Aliyah bi Zawa‘id al-Masanid al-Tsamaniyah, jld. 18 hal. 265, riwayat no. 4455.

Ibnu Khaldun, Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fi Tarikh al-‘Arab wa al-Barbar wa ‘Asharahum min Dzawi al-Sulthan al-Akbar, juz 3 hal. 94. 

Ibnu Khaldun, Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fi Tarikh al-‘Arab wa al-Barbar wa ‘Asharahum min Dzawi al-Sulthan al-Akbar, juz 3 hal. 94. 

Sunan Ibnu Majah, bi syarah as-Sindy, jld. 1 hal. 86, riwayat no. 121. 

Sunan Ibnu Majah, bi syarah as-Sindy, jld. 1 hal. 86, riwayat no. 121. 

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Mathalib al-‘Aliyah bi Zawa‘id al-Masanid al-Tsamaniyah, jld. 18 hal. 265, riwayat no. 4455.

Tuhan Yang Diyakini Syi‘ah Berupa Pemuda?

Sadur tulisan : Ust. Muhammad Bhagas
Tgl. tulisan : 

Judul : Tuhan Yang Diyakini Syi‘ah Berupa Pemuda? 

Saya pernah lihat postingan dari anti Syi‘ah menyebar di grup-grup WA. Diantara isi postingannya begini: 

TUHANNYA SYI'AH BERUPA PEMUDA 

Keyakinan ini didasari oleh riwayat-riwayat dusta karangan rahib-rahib mereka yang tercantum dalam kitab-kitab Syi'ah. Mereka mensifati Tuhan mereka dengan sifat-sifat makhluk. 

al-Majlisy mengatakan dalam kitabnya رُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ رَأَى رَبَّهُ فِي سُورَةِ شَابٍّ 

_"Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ telah melihat Rabbnya dalam bentuk seorang pemuda ."_[2] 

Lalu di footnote no. 2 postingan itu kutipannya diambil dari kitab Bihar al-Anwar. 

______________ 

Kritik Sanad 

Betul riwayat itu ada dalam Bihar al-Anwar, juz 4 halaman 39, no. 18. Bihar al-Anwar itu kitab sekunder, bukan primer (artinya menukil dari kitab primer). Setelah minum teh tarik😁 dan melacak, kami menemukan referensi primer riwayat itu. 

Ternyata tercatat dalam kitab al-Tauhid karya Syaikh Shaduq rahimahullah, halaman 113, riwayat no. 13 dengan sanad lengkap berikut: حدثنا علي بن أحمد بن محمد بن عمران الدقاق رضي الله عنه، قال حدثنا محمد بن أبي عبد الله الكوفي، عن محمد بن إسماعيل البرمكي، عن الحسين ابن الحسن، عن بكر بن صالح، عن الحسين بن سعيد عن إبراهيم بن محمد الخزاز، ومحمد بن الحسين 

Perhatikan sanadnya, ada perawi bernama Bakr bin Shalih (بكر بن صالح). Bagaimana status dia? (Ini maksudnya bukan status nikah atau lajang, janda atau duda, dan sejenisnya, tapi maksudnya status perawi dalam ilmu rijal al-hadits😆) 

Dalam kitab Rijal an-Najasyi, halaman 107, no. 276 Bakr bin Shalih dinilai: ضعيف “Dha‘if” 

Syaikh Muhammad bin Isma‘il al-Mazandarani dalam kitab Muntaha al-Maqal fi Ahwal al-Rijal, juz 2 halaman 162, menyebutkan tentang Bakr bin Shalih begini: ضعيف جدا، كثير تفرد بالغرائب 

“Sangat dha‘if, banyak tafarrud (menyendiri) dengan riwayat-riwayat gharib” 

Jadi riwayat yang dikutip anti Syi‘ah itu statusnya dha‘if menurut ilmu hadits Syi‘ah. Riwayat dha‘if soal aqidah jelas tidak menjadi hujjah. 

Wahai segenap makhluk yang (masih) anti Syi‘ah, kalau anda mengutip riwayat dari kitab Syi‘ah jangan hanya mengutip lalu menyatakan beginilah yang diyakini Syi‘ah, padahal kalian tidak meneliti dulu validitasnya menurut kaidah yang berlaku dalam mazhab Syi‘ah sendiri. Kalau sekedar mengutip, insya Allah saya mah juga bisa mengutip riwayat dha‘if dari kitab Sunni lalu menyatakan begitulah yang diyakini Sunni. Namun sikap seperti itu jelas termasuk ZHALIM dan tidak objektif dalam menilai mazhab lain. 

Jadi fitnah sampeyan tidak mempan🤓 

Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar! Doa terbaik untuk semua yang dizhalimi, khususnya saudara-saudara kita di Palestina dan Suriah! Aamiin. 

______________ 

Referensi: 
📘‘Allamah al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 4 halaman 39, riwayat no. 18. 
📘Syaikh Shaduq, al-Tauhid, halaman 113, riwayat no. 13. 
📘Rijal an-Najasyi, halaman 107, rijal no. 276 
📘Syaikh Muhammad bin Isma‘il al-Mazandarani, Muntaha al-Maqal fi Ahwal al-Rijal, juz 2 halaman 162, rijal no. 474.


Rijal an-Najasyi, halaman 107, rijal no. 276 

Syaikh Muhammad bin Isma‘il al-Mazandarani, Muntaha al-Maqal fi Ahwal al-Rijal, juz 2 halaman 162, rijal no. 474.

Syaikh Shaduq, al-Tauhid, halaman 113, riwayat no. 13.

Syaikh Muhammad bin Isma‘il al-Mazandarani, Muntaha al-Maqal fi Ahwal al-Rijal, juz 2 halaman 162, rijal no. 474.

Syaikh Shaduq, al-Tauhid, halaman 113, riwayat no. 13.

‘Allamah al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 4 halaman 39, riwayat no. 18.

Rijal an-Najasyi, halaman 107, rijal no. 276 

‘Allamah al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 4 halaman 39, riwayat no. 18.

Kedustaan Ceramah Dr. Khalid Basalamah!

Sadur tulisan : Ust. Muhammad Bhagas
Tgl. tulisan : 08 Agustus 2017

Judul : Kedustaan Ceramah Dr. Khalid Basalamah.

Belakangan ini menyebar lagi ceramah Khalid Basalamah tentang Syi‘ah. Biasa isinya kebencian. Awalnya saya dengarkan di grup WA, lalu ketemu lagi video berdurasi 15 menit 8 detik itu di FB. Jika diteliti ternyata ada beberapa yang dia sampaikan bertentangan dengan data dalam kitab Ahlus Sunnah sendiri. 

Mulai dari menit 1:49 sampai 1:54 Khalid Basalamah berkata: 

“SEMUA SAHABAT tidak ada yang khilaf bahwasanya rentetan Abu Bakar-‘Umar ini paling afdhol di kalangan sahabat” 

Jadi menurutnya, semua sahabat tidak berbeda dalam hal Abu Bakar dan ‘Umar paling utama di kalangan sahabat. Benarkan klaim tersebut? Teng tedeng...😃 

Ibnu ‘Abdil Barr (ulama besar Sunni) dalam kitab al-Isti‘ab fi Ma‘rifat al-Ashhab halaman 1090, saat membahas biografi no. 1855 yaitu biografi Imam ‘Ali as disebutkan begini: وروى عن سلمان وأبى ذر والمقداد وخباب وجابر وأبى سعيد الخدرى وزيد بن الأرقم أن على بن ابى طالب رضى الله عنه أول من أسلم وفضله هؤلاء على غيره 

“Diriwayatkan dari Salman, Abu Dzar, Miqdad, Khabbab, Jabir, Abu Sa‘id al-Khudri dan Zaid bin al-Arqam bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang pertama masuk Islam dan mereka mengutamakan ‘Ali atas (sahabat) yang lain” 

Eeiits, tunggu dulu belum selesai! Selain itu, masih di kitab yang sama Ibnu ‘Abdil Barr membahas biografi no. 3054 yaitu sahabat yang bernama ‘Amir bin Watsilah, dikenal dengan Abu Thufail, ia menunjukkan pada halaman 1697 bahwa Abu Thufail mengutamakan Imam ‘Ali as atas syaikhain (Abu Bakar dan ‘Umar). 

Jadi KLAIM Dr. KHALID BASALAMAH ITU TIDAK SESUAI DENGAN DATA VALID. Saya belum tahu apakah dia berniat berdusta atau tidak. Menilai yang tampak saja. Saya lebih cendrung menilai “memang begitu hasil bacaan dan analisanya”. Atau kurang bacaan tapi sudah pede berkeliaran😁. Namun secara ilmiah, apa yang dia sampaikan jelas mengandung racun kedustaan seperti dibuktikan di atas. Walaupun dia Salafi, saya tetap tidak menganggap ajaran Salafinya yang mengajarkan dusta. Itu mungkin kesalahan dari dia tanpa mewakili mazhab yang dianutnya. Jangan zhalim sejak dalam pikiran.

Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar!

______________ 

Referensi kitab: 
📘Abi ‘Umar Yusuf bin ‘Abd Allah bin Muhammad bin ‘Abd Al-Barr, al-Isti‘ab fi Ma'rifah al-Ashhab, tahqiq: Muhammad ‘Ali al-Bajawi, cet. 1 (Beirut: Dar Al-Jil, 1412 H/1992 M), hal. 1090 dan 1697.

📘 Bukti fisik :



Abi ‘Umar Yusuf bin ‘Abd Allah bin Muhammad bin ‘Abd Al-Barr, al-Isti‘ab fi Ma'rifah al-Ashhab, tahqiq: Muhammad ‘Ali al-Bajawi, cet. 1 (Beirut: Dar Al-Jil, 1412 H/1992 M), hal. 1090 dan 1697.

Halaman 1697

Halaman 1090

Jumat, 04 Agustus 2017

Membongkar Kedustaan Tanggapan dari Anti Syi‘ah

Sadur tulisan : Ust. Muhammad Bhagas 
Tgl. tulisan : 4 Agustus 2017

Judul : Membongkar Kedustaan Tanggapan dari Anti Syi‘ah 

Beberapa hari lalu kami share postingan berjudul “Cerita Karangan Syi‘ah?” di grup WA. Isi postingan itu kutipan kitab-kitab Sunni tentang beberapa orang dari Bani Umayyah mencaci maki Imam ‘Ali as, ada pula yang mencaci maki Imam Husain as. 

Diantara yang kami singgung adalah riwayat Ibnu Majah no. 121. As-Sindy (ulama Sunni) memberikan penjelasan atas riwayat itu: أي نال معاوية من علي ووقع فيه وسبه بل أمر سعدا بالسب كما قيل في مسلم والترمذي. 

Intinya menunjukkan Mu‘awiyah mencela Imam ‘Ali as, berkata buruk untuknya, bahkan memerintahkan Sa‘ad untuk mencaci Imam ‘Ali as. 

Nah, ada member grup WA itu yang menanggapi bahwa riwayat itu dha‘if. Tadi malam dia share postingan teks Arab yang berisi argumen menilai dha‘if riwayat itu. Ini kami kutipkan sebagian isi tanggapannya (lihat screenshot chatting grup WA di bawah): أما سبب ضعف الرواية فإن فيها عبد الرحمن بن سابط كثير الإرسال. بالرغم من تصحيح شيخنا الألباني إلا أني أرى أنه قد اجتمعت في هذه الروايات علل عديدة ذهل عنها الشيخ رحمه الله. وقد تكلم أهل العلم في رواية أبي معاوية عن الأعمش. قال فيه ابن عدي: « شيعي محترق: له من الأخبار ما لا أستحب ذكره » وقال ابن حجر: «إخباريٌ تالِف. لا يوثق به» وقال أبو حاتم الرازي في الجرح والتعديل: «ليس بثقة متروك الحديث» (الكامل في الضعفاء6/93 ميزان الاعتدال3/419 لسان الميزان4/584 الجرح والتعديل7/182 سير أعلام النبلاء7/301-302). 

Inti dari kutipan itu: Menilai riwayat itu dha‘if dengan alasan: 

  1. Dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin Sabith. Dia banyak melakukan irsal (sanadnya tidak bersambung). 
  2. Riwayat Abu Mu‘awiyah dari al-A‘masy dijarh (dicela) oleh ulama. Ada yang menilai tidak tsiqah (terpercaya), matruk al-hadits (ditinggalkan haditsnya), riwayatnya rusak, tidak dikukuhkan, dan padanya ada kabar-kabar yang tidak disukai yang tidak dianjurkan untuk disebutkan. 
Poin no. 2 diklaim didasarkan pada kitab-kitab rijal diantaranya kitab al-Jarh wa al-Ta‘dil 7/182 karya Ibnu Abu Hatim, al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal 6/93 karya Ibnu ‘Adiy, dan Lisan al-Mizan 4/584 karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani. 

Teks dari Ibnu ‘Adiy: شيعي محترق: له من الأخبار ما لا أستحب ذكره 

Teks dari Ibnu Hajar: إخباريٌ تالِف. لا يوثق به 

Teks dari Ibnu Abi Hatim: ليس بثقة متروك الحديث 

______________ 

Bantahan 

Mari kita lihat bersama kitab-kitab rijal yang disebutkan. Apakah betul teks-teks jarh (celaan) itu ditujukan untuk riwayat Abu Mu‘awiyah dari al-A‘masy? Kami juga screenshot kitab-kitabnya. 


  1. Kitab al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal, jilid 9 halaman 15, rijal no. 1626. Ibnu ‘Adiy menyebutkan: لوط بن يحيى أبو مخنف كوفي... وهو شيعي محترق صاحب أخبارهم وإنما وصفته لا يستغنى عن ذكر حديثه فإني لا أعلم له من الأحاديث المسندة ما أذكره وإنما له من الأخبار المكروه الذي لا أستحب ذكره. Lihat teks شيعي محترق dan له من الأخبار المكروه الذي لا أستحب ذكره itu justru untuk Luth bin Yahya. 
  2. Kitab Lisan al-Mizan, juz 4 halaman 430-431, rijal no. 6248. Ibnu Hajar menyebutkan: لوط بن يحيى أبو مخنف اخبارى تالف لا يوثق به تركه أبو حاتم وغيره وقال الدارقطني ضعيف وقال يحيى بن معين ليس بثقة وقال مرة ليس بشيء وقال ابن عدى شيعى محترق صاحب اخبارهم Lihat teks اخبارى تالف لا يوثق به itu justru untuk Luth bin Yahya. 
  3. Kitab al-Jarh wa al-Ta‘dil, juz 7 halaman 182, rijal no. 1030. Ibnu Abi Hatim menyebutkan: لوط بن يحيى أبو مخنف روى عن صقعب بن زهير ومجالد بن سعيد... قرئ على العباس بن محمد الدوري قال سمعت يحيى بن معين يقول أبو مخنف ليس بثقة نا عبد الرحمن قال سمعت أبى يقول أبو مخنف متروك الحديث. 
Lihat teks ليس بثقة dan متروك الحديث itu justru untuk Luth bin Yahya. 

Nah, dari tiga kitab rijal tersebut teks jarh (celaan) yang dikutip tidak ada satu pun yang ditujukan untuk riwayat Abu Mu‘awiyah dari al-A‘masy seperti yang diklaim dalam postingan orang itu. Semua teks jarh itu ditujukan untuk Luth bin Yahya. Jadi argumen yang dishare orang itu kesalahan fatal, bahkan saya menganggap itu dusta. Hehe, berarti belum ada bukti kuat riwayat itu dha‘if. 

Saya menilai orang itu tidak berniat sengaja dusta karena masalah niatnya saya belum tahu. Menilai yang tampak saja. Namun secara ilmiah, jelas isi/argumen yang dia share jelas mengandung kedustaan seperti dibuktikan di atas.Mungkin dia hanya copy paste dari beberapa website berbahasa Arab, lalu dishare tanpa mengecek dulu kitab-kitabnya. 

Oh iya, ada tambahan informasi. Argumen dusta seperti itu untuk mendha‘ifkan riwayat Ibnu Majah no. 121 ternyata kami temukan dalam kitab Syubhat wa Rudud Ahadits Yuhtaj Biha asy-Syi‘ah, halaman 147. Penulisnya berinisial ‘A M S D. Dia da‘i Salafi kelahiran Beirut-Lebanon. Menempuh S3 di Kairo, dan S2 di Pakistan. Walaupun dia Salafi, saya tetap tidak menilai ajaran Salafinya yang mengajarkan dusta. Itu mungkin kesalahan dari dia tanpa mewakili mazhab yang dianutnya. Adil sejak dalam pikiran🙂 

Selamat milad Imam ‘Ali ar-Ridha as, 11 Dzulqa‘dah. Insya Allah keberkahannya selalu mengalir untuk kita semua. Titip doa, salam ziarah, dan permintaan maaf kepada Imam as karena kurang menunaikan hak😭. Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar, terlebih hari Jum‘at yang penuh berkah. Doa terbaik untuk semua yang dizhalimi. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina, Yaman, dan Suriah! Aamiin. 

______________ 

Referensi kitab: 

📘Ibnu ‘Adiy, al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal, jilid 9 halaman 15, rijal no. 1626. 
📘Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Lisan al-Mizan, juz 4 halaman 430-431, rijal no. 6248. 
📘Ibnu Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta‘dil, juz 7 halaman 182, rijal no. 1030. 
 📘‘A M S D, Syubhat wa Rudud Ahadits Yuhtaj Biha asy-Syi‘ah, halaman 147.


Ibnu Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta‘dil, juz 7 halaman 182, rijal no. 1030.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Lisan al-Mizan, juz 4 halaman 431, rijal no. 6248.

Ibnu ‘Adiy, al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal, jilid 9 halaman 15, rijal no. 1626.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Lisan al-Mizan, juz 4 halaman 430, rijal no. 6248.

Ibnu ‘Adiy, al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal, jilid 9 halaman 15, rijal no. 1626.

Ibnu Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta‘dil, juz 7 halaman 182, rijal no. 1030.
‘A M S D, Syubhat wa Rudud Ahadits Yuhtaj Biha asy-Syi‘ah, halaman 147.



Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Lisan al-Mizan, juz 4 halaman 430-431, rijal no. 6248.


‘A M S D, Syubhat wa Rudud Ahadits Yuhtaj Biha asy-Syi‘ah, halaman 147.

BUKU TENTANG SALAFI (1)


Assalamu'alaikum wr. wb. 

Kilasan bacaan saya terhadap buku ini : Ada pihak yang mengkleim mengikuti salafus saleh "secara apa adanya" tapi membuat perselisihan terhadap ahlusunnah wal jamaah yang sejatinya merupakan hasil kesepakatan dari umat islam dan golongan ulama salaf juga. Pihak ini bernama kelompok salafi. 

Buku ini menulis kritik secara membangum dan bersahabat atas kelemahan kleim dan praktek keagamaan mereka kepada kaum muslim lainya khususnya sifat fanatisme kelompok yang ingin memenangkan kelompoknya atas kelompok lain. 

Diharapkan setelah mendapat penjelasan dari buku ini maka timbul kesadaran bahwa kita semua satu agama tauhid, mampu membuka hati dan kebaikan terhadap semua golongan selama berada dlm wilayah aswaja dan tdk membuat pertentangan ttg apa y sdh jelas dlm agama. Juga memahami bahwa umat islam pny keleluasaan sesuai y tlh disepakati bersama maka jangan ada picu pertikaian, tuduhan2 dan pecah belah, dsb.

Data buku :
Judul asli : "As-Salafiyyah' Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islam
Penulis : Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi
Penerbit : Darul Fikr-Bairut
Judul Buku : Salafi sebuah fase sejarah bukan mazhab
Penerjemah : Futuhal Arifin, Lc.
Penyunting : Harlis Kurniawan
Penerbit : GIP
Cetakan : 1/ Feb. 2005

Kamis, 03 Agustus 2017

ITRAH AHLULBAT NABI ADALAH WASIAT NABI SAW KEPADA KITA UMATNYA

Assalamu'alaikum wr. wb.

Bismillahirohmannirahim

Ada wasiat Rasulullah, berbunyi :

"Wahai orang2 semua, sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian sesuatu yang apabila kalian mengikutinya, maka kalian TIDAK AKAN TERSESAT, yaitu Kitabullah dan Itrah ahlulbayt-ku." (Silahkan melihat ke No. 3786 Sunan At-Tirmidzi jil. 4)

Wasiat Nabi ini yang menjadi rujukan atau pengangan kaum ISLAM SYIAH dalam konsep dan amaliyahnya, yang tidak ditemukan di kalangan Islam lainnya seperti ASWAJA, SALAFI, WAHABI, IKHWAN dll-nya. Hadis ini di literatur mereka (selain syiah) hanya berupa hadis di antara kumpulan hadis yang jauh dari aktifitas merujuk secara fisik atau jauh dari praktek sebagai penerapan atas wasiat Nabi kepada umatnya.

Hadis ini sesuai dengan hadis lain, yang senada dengan anjuran Rasulullah agar para sahabat-sahabatnya dan semua umatnya mengikuti siapa yang harus dirujuk setelah sepeninggalnya yaitu pada :

1. Kitab Shahih Muslim jil. 7 hadis no. 122 - 123 (Mukhtasyarnya No. 1657),

2. Kitab Musnad Ahmad, juz 35 hal. 456, hadits no. 21578.

Sejatinya, hadis-hadis ini sudah cukup kuat menjadi pengangan yang paling dasar bagi bangunan dan praktek ke agamaan umat islam, tetapi kenapa umat dan ulama-ulama kita tidak menjadikan hadis-hadis wasiat atau pusaka ini menjadi rujukan dan pengangan keagamaan kita? bahkan kita tidak mengenal atau tidak mengetahuinya... kecuali karena di beritahu oleh komunitas pecinta ahlulbayt yaitu para syiahnya dengan mengingatkan kepada kita semua bahwa adanya hadis ini yang ditinggalkan kaum Muslimin.

Sebelumnya, cukup lumayan lama kami secara pribadi bisa mempercayai bahwa syiah adalah bagian dari Islam; bahkan sangat lama pula kami menerima kata syiah itu sendiri dalam pikiran kami... Hal ini disebabkan kami begitu fobia terhadap kata ini. Dalam benak kami syiah sama dengan 'bukan islam,' 'sesat menyesatkan,' 'aliran menyimpang,' 'pemahaman berbahaya..' Ke fobian kami berasal dari buku-buku yang kami kumpulkan untuk mengetahu hakikat syiah seperti apa dan komunitas yang sering menyerukan anti syiah... tetapi, Alhamdulillah atas petunjuk Allah swt kami bisa menyingkirkan image buruk tentang syiah dan sedikit demi sedikit menghilangkan fitnah terhadapnya... dan mulai melakukan perbandingan issue atau berita tentang syiah kepada komunitas syiah di Indonesia. SubhanAllah ternyata berbeda 180 derajat dengan infomasi yang kami dapati sebelumnya... sungguh fitnah itu sangat kejam dan lebih bahaya dari pembunuhan. Apakah ulama-ulama yang menulis buku-buku itu tidak melakukan tabayyun terlebih dahulu atau mengajak semua manusia minimal ingat hadis Nabi ini

"Barang siapa menuduh saudaranya yang beriman sebagai "bukan Islam!" Maka tuduhan itu kembali kepada si penuduh (peringatan dalam riwayat Shahih Muslim jil. 1 hadis no 57).

Sungguh sangat merusak perilaku mereka yang menghancurkan nama baik saudaranya sendiri, kehormatan itrah ahlulbayt nabi dan menghancurkan karakter syiah yang menyokong itrah ahlulbayt. Coba bagaimana kami bisa memuliakan apalagi merujukkan agama kepada itrah Ahlulbait jika para pengikut setianya di hina-dinakan? Mungkin karena saking buruknya image syiah karena itu para ulama tidak pernah menenggok keberadaan hadis-hadis wasiat seperti ini... dan mereka dengan jama"ah mencari atau menuju pencapaian lain...

Kata syiah di hancur dan di buruk, itrah ahlulbayt Nabi, dalam kajian dan pengajian kami tidak diberitahu tentang siapa itu itrah ahlulbayt dan kewajiban kami umatnya terhadapnya. Padahal Nabi berkata

"Mereka yang patuh kepadaku akan masuk surga, dan mereka yang tidak patuh terhadapku adalah mereka yang menolak masuk surga (Shahih Bukhari Jil. 9 hadis No. 384)

Juga, Nabi berkata

"Siapa pun yang mentaati Muhammad saw (berarti) mentaati Allah; siapa pun yang tidak mentaati Muhammad saw (berarti) tidak mentaati Allah. Muhammad memisahkan mereka (melalui pesan kenabiannya, yaitu memisahkan yang saleh dari yang jahat, memisahkam Mukmin dari yang kafir (menutup kebenaran)) (Shahih Bukhari jil. 9 hadis no. 385).

Sekali lagi bukankah ini Hadis dan berupa perintah Nabi SAW kita???
Siapa yang konsisten mengusung hadis wasiat ini selama ini???
Siapa yang giat menjauhkan kita semua dari Itrah ahlulbayt Nabi???
Lihat kondisi umat islam di dunia sampai hari ini: Perpecahan, Perdebatan, Perselisihan dan akibatnya kita lemah dan kalah, tidak mulia... Di sebabkan apa kita jadi seperti ini???