Kamis, 24 Agustus 2017

Kedustaan Klaim Ibnu Taymiyyah

Judul : Kedustaan Klaim Ibnu Taymiyyah 
Penulis : Muhammad Bhagas

Ibnu Taymiyyah dalam kitab Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, juz 5 halaman 35-36, menyatakan: ومثل قوله: (أنت ولي في كل مؤمن بعدي) فإن هذا موضوع باتفاق أهل المعرفة بالحديث 

“Seperti sabdanya: ‘Engkau adalah pemimpin untuk semua mu‘min sepeninggalku’, ini adalah (hadits) palsu menurut kesepakatan ahli hadits” 

Masih di kitab yang sama, juz 7 halaman 391, Ibnu Taymiyyah menyatakan: قوله: (هو ولي كل مؤمن بعدي) كذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم 

“Sabdanya: ‘Engkau adalah pemimpin setiap mu‘min sepeninggalku’, adalah dusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” 

Benarkah hadits itu palsu sesuai kesepakatan ahli hadits? 

Dusta atas nama Rasulullah SAWW? Teng tedeng...😃 

______________ 

Bantahan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Isti‘ab fi Ma‘rifat al-Ashhab, halaman 1091, mengutip sabda Rasulullah SAWW untuk Imam ‘Ali as: أنت ولي كل مؤمن بعدي 

“Engkau adalah pemimpin setiap mu‘min sepeninggalku” Setelah mengutip beberapa hadits terkait Imam ‘Ali as termasuk hadits pemimpin itu, Ibnu ‘Abdil Barr menilai di halaman 1092: هذا إسناد لا مطعن فيه لأحد لصحته وثقة نقلته 

“Dalam sanad-sanad ini tidak ada satu pun yang dicela bagi keshahihannya dan penukilannya terpercaya” 

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, juz 4 halaman 468, mencatat hadits itu dan sebelumnya menilai: وأخرج الترمذي بإسناد قوي 

“Dan diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan sanad-sanad yang KUAT” 

Dalam kitab al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihayn, juz 3 halaman 143-144, ada hadits no. 4652 riwayat Ibnu ‘Abbas ra tentang keutamaan Imam ‘Ali as. 

Diantaranya Rasulullah SAWW bersabda: أنت ولي كل مؤمن بعدي 

“Engkau adalah pemimpin setiap mu‘min sepeninggalku” 

Lalu al-Hakim an-Naysaburi berkomentar: هذا حديث صحيح الإسناد 

“Hadits ini SHAHIH sanad-sanadnya” 

Tambah lagi di footnote hadits no. 4652 disebutkan: قال في التلخيص: صحيح “Berkata (adz-Dzahabi) dalam kitab al-Talkhish: SHAHIH” 

Empat penilaian ulama klasik itu cukup membuktikan kedustaan klaim Ibnu Taymiyyah bahwa hadits itu PALSU sesuai KESEPAKATAN AHLI HADITS. 

Bahkan jika kita menilai secara manual pakai ilmu hadits dan kitab-kitab rijal, memang hadits itu status sanadnya shahih karena perawinya tsiqah dan sanadnya bersambung. 

Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar! 

Semoga Allah Ta‘ala mengampuni kita. 

Aamiin. 

______________ 

Referensi kitab: 

📘Ibnu Taymiyyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, juz 5 hal. 35-36 dan juz 7 hal. 391 (tahqiq: Muhammad Rasyad Salim) 
📘Ibnu ‘Abdil Barr, al-Isti‘ab fi Ma‘rifat al-Ashhab, hal. 1091-1092, biografi no. 1855 (tahqiq: ‘Ali Muhammad al-Bajawi) 
📘Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, juz 4 hal. 468, biografi no. 5704 (tahqiq: ‘Adil Ahmad ‘Abd al-Mawjud dan ‘Ali Muhammad Mu‘awwadh) 
📘Al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihayn, juz 3 hal. 143-144, hadits no. 4652 (tahqiq: Mushthafa ‘Abd al-Qadir ‘Atha)

Khalifah setelah Nabi ?

*Khalifah Yang Sebenarnya Sepeninggal Nabi Saww* 

Oleh: Muhammad Bhagas 


Populer pendapat di tengah masyarakat bahwa Nabi Saww tidak mewasiatkan khalifah. Saya menghimbau kepada semua yang membaca postingan ini: *jangan percaya pendapat itu!* 

Mungkin anda pernah membaca hadits shahih bahwa Nabi Saww meninggalkan al-tsaqalain (dua pusaka). Ternyata, setelah melakukan pelacakan, kami menemukan hadits shahih mengenai itu tidak hanya menggunakan redaksi "al-tsaqalain", namun ada juga redaksi lain. Lantas apa redaksi lain yang dimaksud? Kami menampilkan hadits shahih yang terdapat dalam dua kitab. 

*Kitab Pertama* 

Dalam kitab Musnad Ahmad, juz 35 halaman 456, hadits no. 21578 berikut: عن زيد بن ثابت، قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: إني تارك فيكم خليفتين : كتاب الله، حبل ممدود ما بين السماء والأرض - أو ما بين السماء إلى الأرض - وعترتي أهل بيتي، وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض. Dari Zaid bin Tsabit berkata: Rasulullah Saww bersabda: “Sungguh aku tinggalkan untuk kalian خليفتين (DUA KHALIFAH) yaitu Kitabullah yang merupakan tali yang terbentang antara langit dan bumi... dan ‘itrah Ahlul Baytku. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiku di haudh (telaga di surga).” 

*Kitab Kedua* 

Dalam kitab Mu‘jam Al-Kabir, juz 5 halaman 153-154, hadits no. 4921 berikut: عن زيد بن ثابت عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: إني قد تركت فيكم الخليفتين: كتاب اللّه و اهل البيتي، وإنهما لم يفترقا حتى يردا علي الحوض. Dari Zaid bin Tsabit dari Rasulullah Saww bersabda: “Sungguh aku telah tinggalkan untuk kalian الخليفتين (DUA KHALIFAH) yaitu Kitabullah dan Ahlul Baytku. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiku di haudh (telaga di surga).” 

*Silahkan perhatikan redaksi hadits: menggunakan kata “khalifah”.* 

Dua hadits itu jelas menunjukkan Rasulullah Saww meninggalkan *khalifah* untuk umatnya yaitu Kitabullah (Al-Qur‘an) dan Ahlul Bayt-‘itrah Ahlul Bayt. Maka terbuktilah kebohongan pendapat bahwa Rasulullah Saww tidak mewasiatkan khalifah. 

______________ 

*Status Hadits* 

Pertama, 

hadits dalam kitab Musnad Ahmad, dikomentari oleh muhaqqiq pada footnote (catatan kaki) no. 1 berikut: حديث صحيح بشواهده *Hadits shahih dengan syawahidnya* 

Kedua, 

hadits dalam kitab Mu‘jam Al-Kabir, dikomentar oleh ulama Sunni yakni Al-Haitsami dalam kitab Majma’ Al-Zawa‘id wa Manba’ Al-Fawa‘id, juz 1 halaman 170, berikut: رجاله ثقات *Perawinya tsiqat (terpercaya, kuat)* 

*Selalu perbanyak bershalawat!* 

______________ 

*Referensi*: 

📙Ahmad bin Hanbal, Musnad, tahqiq: Syu‘aib Al-Arnauth, cet. 1, juz 35 (Beirut: Muassasah Al-Risalah, 1420 H/1999 M), hal. 456, hadits no. 21578. 
📘Abi Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Al-Thabrani, Mu‘jam Al-Kabir, tahqiq: Hamdi ‘Abd Al-Majid Al-Salafi, juz 5 (Kairo: Maktabah Ibn Taimiyah, t.th.), hal. 153-154, hadits no. 4921. 
📗Nur Al-Din ‘Ali bin Abi Bakr Al-Haitsami, Majma’ Al-Zawa‘id wa Manba’ Al-Fawa‘id, juz 1 (Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, t.th.), hal. 170.

Menuduh Sunni Ghuluw ?

Menyadur dari tulisan : Ust. Muhammad Bhagas

Judul : Menuduh Syi‘ah Ghuluw Sama Seperti Menuduh Sunni Ghuluw 

Beberapa pihak, khususnya pembenci Syi‘ah, menuduh Syi‘ah ghuluw karena Syi‘ah menyebut dan meyakini Imam ‘Ali as secara berlebihan sehingga dianggap menyimpang dari syari‘at. Misalnya mengaitkan Imam ‘Ali as dengan ibadah, keselamatan dari api neraka, mengetahui perkara ghaib, kema‘shuman, dll. Nah, seharusnya mereka menjelaskan batasan ghuluw dan syariat mana yang dilanggar jika meyakini semua itu. Oh iya, mereka mungkin belum tahu bahwa hal-hal yang mirip bahkan yang seperti itu tercatat juga dalam kitab-kitab Sunni. Yuk kita baca apa saja diantaranya😁 

  1. Abu Bakr al-Ajurri (w. 360 H), ulama hadits dan syaikhul haram pada masanya, dalam kitab asy-Syari‘ah, juz 18 halaman 2017, menyebut Imam ‘Ali as sebagai: مفرج الكرب “Orang yang melapangkan kesulitan/penderitaan” 
  2. Tercatat dalam kitab Siyar A‘lam an-Nubala’, juz 10 halaman 151, guru Bukhari bernama Fadhl bin Dukain (w. 219 H) mengatakan: حب علي رضي الله عنه عبادة “Mencintai ‘Ali radhiyallahu ‘anhu adalah ibadah” 
  3. Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H), ‘alim produktif mazhab Syafi‘i, dalam Tarikh al-Khulafa’, halaman 291, mengutip hadits: النظر إلى علي عبادة “Memandang ‘Ali adalah ibadah” Lalu as-Suyuthi berkomentar: إسناده حسن “Sanadnya hasan” 
  4. Ulama hadits dan faqih mazhab Maliki, Ibnu ‘Abdul Barr (w. 463 H), mengutip khutbah Imam ‘Ali as dalam kitab Jami’ al-Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, juz 1 halaman 464. Berikut bagian awalnya: سلوني، فوالله لا تسألوني عن شيء يكون إلى يوم القيامة إلا حدثتكم به... “Tanyalah kepadaku, demi Allah, tidaklah kalian bertanya kepadaku mengenai sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat melainkan aku akan menyampaikannya kepada kalian...” Muhaqqiq kitab Syaikh Abul Asybal az-Zuhayri menilai di footnote riwayat no. 726: إسنده صحيح “Sanadnya shahih” 
  5. Dalam himpunan besar berjudul al-Fath ar-Rabbani Min Fatawa al-Imam asy-Syawkani, ada risalah no. 131 ‘Uqud az-Zabarjad fi Jiyd Masa‘il ‘Alamat Dhamad. Asy-Syawkani (w. 1250 H) di risalah itu, halaman 4085, mengakui begini: عصمة علي وحجة قوله: ذهب إلى القول لهما جماعة من أهل البيت عليهم السلام 
“(Keyakinan bahwa) ‘Ali ma‘shum dan perkataannya menjadi hujjah: didapati dua pernyataan itu merupakan (keyakinan) mayoritas dari Ahlul Bayt ‘alaihimussalam” 

Pengakuan asy-Syawkani itu sekaligus membantah tuduhan orang-orang bahwa keyakinan Imam ‘Ali as ma‘shum merupakan karangan ‘Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya. 

Lalu asy-Syawkani menjelaskan diantara dalil keyakinan bahwa Imam ‘Ali as ma‘shum dan perkataannya hujjah adalah hadits riwayat al-Hakim dan ath-Thabrani: علي مع القرآن والقرآن مع علي ولن يتفرقا حتى يردا علي الحوض 

“‘Ali bersama al-Qur‘an dan al-Qur‘an bersama ‘Ali, (keduanya) takkan terpisah hingga menemuiku di haudh” Nah, apakah para pembenci Syi‘ah itu akan menuduh ulama Sunni dan Ahlul Bayt as sebagai orang-orang ghuluw? 

Maukah mereka menuduh Imam ‘Ali as syirik hanya karena khutbahnya di no. 4 itu? Atau menganggap Ahlul Bayt as telah menyimpang karena meyakini kema‘shuman Imam ‘Ali as? 

Padahal semua hal di atas berdasarkan hadits-hadits shahih, dan tentu diyakini dengan “atas izin Allah Ta‘ala”😁 

Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar! 

Doa terbaik untuk semua yang dizhalimi. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina, Yaman, Suriah, dan Afrika🙏 

______________ 

Referensi kitab: 

📘Abu Bakr al-Ajurri, asy-Syari‘ah, juz 18 halaman 2017 (cetakan Dar al-Wathan, 1418 H/1997 M) 
📘Syamsuddin adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubala’, juz 10 halaman 151, no. 21 (cetakan Mu‘assasah ar-Risalah, 1402 H/1982 M) 
📘Jalaluddin as-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’, halaman 219 (cetakan Wizarah al-Awfaq wa asy-Syu‘un al-Islamiyyah, 1434 H/2013 M) 
📘Ibnu ‘Abdil Barr, Jami’ al-Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, juz 1 halaman 464, no. 726 (cetakan Dar Ibn al-Jawzi, 1414 H/1994 M) 
📘Muhammad bin ‘Ali asy-Syawkani, al-Fath ar-Rabbani, risalah no. 131 ‘Uqud az-Zabarjad fi Jiyd Masa‘il ‘Alamat Dhamad, halaman 4085 (cetakan Maktabah al-Jiyl al-Jadid)

Perilaku Bani Umayyah

Menyadur dari tulisan : Ust. Muhammad Bhagas

Judul :

Perilaku Sebagian Dari Bani Umayyah dan Kezhaliman Samar 

Sebenarnya ini lanjutan dari tulisan berjudul “Cerita Karangan Syi‘ah?”. 
Isinya menukil dari kitab-kitab Sunni tentang beberapa orang Bani Umayyah mencaci maki Imam ‘Ali as, diantara mereka ada yang melaknat Ahlul Bayt as. 
Dalam kitab al-‘Ilal wa Ma‘rifat al-Rijal, juz 3 halaman 176, riwayat no. 4781 isinya berikut: عن عمير بن إسحاق قال كان مروان أميرا علينا ست سنين فكان يسب عليا كل جمعة ثم عزل ثم استعمل سعيد بن العاص سنتين فكان لا يسبه ثم أعيد مروان فكان يسبه 

Dari ‘Umair bin Ishaq yang berkata: “Marwan menjadi pemimpin kami selama enam tahun dan ia mencaci ‘Ali setiap hari Jum’at. Kemudian ia digantikan oleh Sa‘id bin ‘Ash selama dua tahun dan Sa‘id tidak mencaci ‘Ali. Kemudian Marwan diangkat kembali dan ia mencacinya lagi” 

Muhaqqiq kitab berkomentar di footnote no. 2: اسناده صحيح “Sanadnya shahih” 

Ada juga nih komentar ulama Sunni. 

Al-Manawi yang menukil dalam kitab Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shagir, juz 3 halaman 15, bahasan riwayat no. 2631 tentang hadits al-Tsaqalayn (dua pusaka) begini: ومع ذلك فقابل بنو أمية عظيم هذه الحقوق بالمخالفة والعقوق فسفكوا من أهل البيت دماءهم وسبوا نساءهم وأسروا صغارهم وخربوا ديارهم وجحدوا شرفهم وفضلهم واستباحوا سبهم ولعنهم فخالفوا المصطفى صلى الله عليه و سلم في وصيته 

“Bersamaan dengan itu (sebagian) Bani Umayyah menerima wasiat yang agung ini dengan menentangnya dan mengkhianatinya. Mereka menumpahkan darah Ahlul Bayt, menghina perempuan mereka, menawan anak-anak mereka, menghancurkan rumah mereka, mengingkari kemuliaan dan keutamaan mereka, membolehkan mencaci mereka dan melaknat mereka. Maka mereka (sebagian Bani Umayyah) telah menentang Nabi Muhammad SAW dalam wasiatnya” 

Na‘udzu billah dari segala perilaku tercela seperti itu. Mungkin anda berkata, “Mana mungkin masih ada orang Islam di zaman ini membenci dan menzhalimi Ahlul Bayt as?”. 

Jawabannya: Menzhalimi Ahlul Bayt as tidak selalu dengan cara yang tampak. Termasuk menzhalimi Ahlul Bayt as juga bila anda: 

  1. Mengaku mencintai Ahlul Bayt as, tapi di sisi lain anda juga mencintai orang yang mencaci maki atau menzhalimi Ahlul Bayt as. 
  2. Mengaku mencintai Ahlul Bayt as tapi mengingkari sejarah dicaci makinya Ahlul Bayt as, sambil menganggap “Dulu Ahlul Bayt as tidak apa-apa kok”. 
  3. Terjadi perselisihan dua kubu yaitu Ahlul Bayt as dan kubu lain. Misalnya: kasus tanah fadak, perang Shiffin, dan perang Jamal. Membela Ahlul Bayt as tapi membela juga kubu yang bersebrangan dengan Ahlul Bayt as dengan alasan “itu ijtihad mereka, ya tidak apa-apa” atau “ijtihad mereka salah dapat 1 pahala, kalau benar dapat 2 pahala”. Jadi seakan mau membenarkan kedua pihak yang berselisih dengan ungkapan halus. 
  4. Mengurangi hak Ahlul Bayt as misalnya dengan cara mendha‘ifkan hadits al-Tsaqalayn jalur tertentu yang sebenarnya shahih jika ditimbang pakai ilmu hadits dan data kitab rijal. Atau menyimpangkan makna hadits shahih yang terkait kewajiban mengikuti Ahlul Bayt as. Atau bahkan mentahrif teks Arabnya. 
  5. Dll. 
Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar! 
Doa terbaik untuk semua yang dizhalimi. Khususnya untuk saudara-saudara di Palestina, Yaman, dan Suriah! 
Aamiin. 

______________ 

Referensi kitab: 
📘Ahmad bin Hanbal, al-‘Ilal wa Ma‘rifat al-Rijal, juz 3 halaman 176, riwayat no. 4781.  
📘Al-Manawi, Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shagir, juz 3 halaman 15, syarah riwayat no. 2631.


Kamis, 10 Agustus 2017

Menyebutmu Antara Cinta dan Derita

Menyadur tulisan : Ust. Muhammad Bhagas 
Tgl. tulisan : 11 Juli 2017

Judul : Menyebutmu Antara Cinta dan Derita 

Abu Sulaiman bin Zabr mengisahkan, “Aku berkumpul bersama 10 orang lainnya, dan di antara mereka ada Abu Bakar ath-Thai. Ia sedang membacakan keutamaan-keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib di dalam masjid di Damaskus... 

...Kurang lebih seratus orang jama‘ah masjid datang menerpa dan ingin memukul kami. Seorang lelaki menggenggam janggutku. Beberapa masyayikh pun datang. Dan ada seorang qadhi di kala itu yang melepaskanku. Orang-orang mengikat Abu Bakar (ath-Thai) lalu memukulnya. Mereka menggiringnya ke pemerintah di daerah al-Khadhra’, 

Lalu Abu Bakar pun berujar, ‘Tuan-tuan, dalam kitabku ini hanya tertulis keutamaan-keutamaan ‘Ali. Besok, aku akan sampaikan pula keutamaan-keutamaan Mu‘awiyah...’” 

Adz-Dzahabi melaporkan peristiwa ini terjadi sekitar tahun 300 H. Saat itu, orang-orang awam di Damaskus merupakan nashibi. 

Padahal ia sekedar ungkap lewat kata-kata. Membaca keutamaan Imam ‘Ali saja yang ditimpa derita. Namun bukankah itu hadiah bagi para pecinta? 😭 

Wahai washi yang teramat taat, penyebar rahmat, safinah penyelamat... menyebutmu memang menyayat, itulah nikmat. Kuberharap syafa‘at. Selalu memperbanyak bersholawat! 🌺 

______________ 

Referensi kitab: 

📙al-Mu‘arrikh al-Islam Syams al-Din Abi ‘Abd Allah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman al-Dzahabi, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir al-A‘lam, tahqiq: Basyar ‘Awad Ma‘ruf, cet. 1, jil. 7 (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1424 H/2003 M), hal. 382.


Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir al-A‘lam

hal. 382

Syubhat Yang Dinisbahkan Pada Imam Muhammad al-Baqir as

Menyadur tulisan : ust. Muhammad Bhagas
Tgl. tulisan : 13 Juli 2017

Judul : Syubhat Yang Dinisbahkan Pada Imam Muhammad al-Baqir as 

Dalam kitab Sunni, Fadha‘il al-Shahabah karya ad-Daraquthni, halaman 59-60, ada riwayat no. 37 dinisbahkan pada Imam Muhammad al-Baqir as yang KONON berkata: من لم يعرف فضل أبي بكر وعمر رضي الله عنهما فقد جهل السنة 

“Orang yang tidak mengenal keutamaan Abu Bakar dan ‘Umar ra maka ia bodoh tentang sunnah” 

_____________ 

Kritik Sanad 

Ini sanad lengkapnya: ًحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ، بِمِصْرَ قَالَ: نَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ شَرِيكٍ، قَالَ: نَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ، قَالَ: نَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ 

Status riwayat itu DHA‘IF karena dalam sanadnya ada Muhammad bin Ishaq. Muhammad bin Ishaq yang dimaksud adalah Muhammad bin Ishaq bin Yasar karena dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib, juz 5 halaman 470, rijal no. 6753, tercatat diantara yang meriwayatkan darinya adalah Yunus bin Bukair. Muhammad bin Ishaq bin Yasar adalah seorang mudallis (suka menyamarkan hadist). Ahmad, ad-Daraquthni, dan yang lain menilainya mudallis. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Ta‘rif Ahlu al-Taqdis halaman 51, menggolongkan Muhammad bin Ishaq bin Yasar sebagai mudallis tingkat keempat. 

Hukum mudallis tingkat keempat: من اتفق على أنه لا يحتج بشيء من حديثهم الا بما صرحوا فيه بالسماع لكثرة تدليسهم على الضعفاء والمجاهيل 

Berarti Muhammad bin Ishaq bin Yasar disepakati agar tidak berhujjah dengan sesuatu pun dari riwayatnya kecuali ia menyebutkan lafaz penyimakan. 

Nah, karena dalam sanad riwayat itu Muhammad bin Ishaq bin Yasar tidak menyebutkan lafaz penyimakan dan ia mudallis tingkat keempat, maka tidak menjadi hujjah. 

Oh iya, khawatir ada yang ngoceh “ah, ini penilaian Syi‘ah saja. Karena riwayat itu tentang Abu Bakar dan ‘Umar, makanya didha‘ifkan”. 

Perlu ditegaskan bahwa penilaian ini tidak didasarkan kebencian, melainkan sikap ilmiah dengan merujuk pada ilmu hadits dan kitab-kitab rijal Sunni sendiri.

Jika masih ngoceh, ini kami kutipkan penilaian ulama Sunni kelahiran Tripoli-Libya, Syaikh Muhammad bin Khalifah ar-Rabah, atas riwayat itu: إسناده ضعيف فيه ابن إسحاق عنعنه: وهو مدلس 

“Sanadnya dha‘if. 

Dalam sanadnya Ibnu Ishaq meriwayatkan secara ‘an‘anah. Dia mudallis” 

Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar!🌺 

______________ 

Referensi Sunni: 
📗Ad-Daraquthni, Fadha‘il al-Shahabah, hal. 59-60, riwayat no. 37. 
📗Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, juz 5 hal. 469-470, rijal no. 6753. 
📗Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Ta‘rif Ahl al-Taqdis, hal. 51, rijal no. 125.


Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, juz 5 hal. 470, rijal no. 6753. 

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, juz 5 hal. 469-470, rijal no. 6753. 

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, juz 5 hal. 469, rijal no. 6753. 

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Ta‘rif Ahl al-Taqdis, hal. 51, rijal no. 125.

Ad-Daraquthni, Fadha‘il al-Shahabah, hal. 60, riwayat no. 37. 

Ad-Daraquthni, Fadha‘il al-Shahabah, hal. 59-60, riwayat no. 37. 

Ad-Daraquthni, Fadha‘il al-Shahabah, hal. 59, riwayat no. 37. 

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Ta‘rif Ahl al-Taqdis, hal. 51, rijal no. 125.


Riwayat Membunuh Rafidhah

Sadur tulisan : Ust. Muhammad Bhagas 
Tgl. tulisan : 23 Juli 2017

Judul : Riwayat Membunuh Rafidhah 

Dalam kitab an-Nahyu ‘An Sabb al-Ashhab wa Ma Fiha min al-Itsm wa al-‘Iqab karya Dhiya‘uddin al-Maqdisi, halaman 86-88, ada riwayat no. 34 yang DINISBAHKAN pada Nabi Muhammad Saww. 

Berikut diantara isi riwayat itu: سيكون بعدي قوم لهم نبز يسمون الرافضة، وآية ذلك أنهم يسبون أبا بكر وعمر، فإذا وجدتموهم فاقتلوهم فإنهم مشركون 

“Akan ada sepeninggalku kaum yang mereka dinamai Rafidhah, ciri-ciri mereka mencela Abu Bakar dan ‘Umar. Jika bertemu mereka maka bunuhlah mereka karena mereka adalah orang-orang musyrik” 

______________ 

Kritik Sanad 


  1. Dalam sanadnya ada Muhammad bin Harun bin ‘Isa. Al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Madinat as-Salam (Tarikh Baghdad), jilid 4 halaman 565 no. 1728, menilai banyak hal mungkar dalam riwayatnya. Dalam kitab al-Mughni fi ad-Dhu‘afa’, juz 2 halaman 383 no. 6056, disebutkan ia didha‘ifkan oleh ad-Daraquthni. Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Madinat Dimasyq, juz 14 halaman 28, menilainya sebagai pemalsu hadits. Ibnu al-Jauzi memasukkan dalam ad-Dhu‘afa’ wa al-Matrukin, juz 3 halaman 106 no. 3226. Itu menunjukkan ia dikategorikan rijal dha‘if. 
  2. Ada juga Ya‘qub bin Humaid dalam sanadnya. Ada perselisihan tentang dia. Kesimpulannya dia dha‘if namun dijadikan i‘tibar, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tahrir Taqrib al-Tahdzib, juz 4 halaman 125 no. 7815. Ia didha‘ifkan oleh ulama mutaqaddimin: Ibnu Ma‘in, Abu Hatim, dan an-Nasa‘i
Secara sanad riwayat itu dha‘if. Matan riwayat juga bermasalah karena berisi perintah membunuh sekelompok orang dengan alasan mereka mencela. Jelas bertentangan dengan al-Qur‘an, sirah Nabawiyah, dan prinsip syariat Islam. Saya menduga riwayat seperti ini muncul dilatarbelakangi faktor politik masa lalu, wallahu a‘lam. Jadi hati-hati menisbahkan pada Nabi Muhammad Saww. Na‘udzu billah min dzalik. 

Doa terbaik untuk semua orang yang dizhalimi, khususnya saudara-saudara di Palestina dan Suriah. Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar! 

______________ 

Referensi 

📘Dhiya‘uddin al-Maqdisi, an-Nahyu ‘An Sabb al-Ashhab wa Ma Fiha min al-Itsm wa al-‘Iqab, hal. 86-88, no. 34. 
📘Al-Khathib al-Baghdadi, Tarikh Madinat al-Salam, jil. 4 hal. 565, no. 1728. 
📘Adz-Dzahabi, al-Mughni fi ad-Dhu‘afa’, juz 2 hal. 383, no. 6056. 
📘Ibnu ‘Asakir, Tarikh Madinat Dimasyq, juz 14 hal. 28. 
📘Ibnu al-Jauzi, ad-Dhu‘afa’ wa al-Matrukin, juz 3 hal. 106 no. 3226. 
📘Basyar ‘Awad Ma‘ruf dan Syu‘aib al-Arnauth, Tahrir Taqrib al-Tahdzib, juz 4 hal. 125 no. 7815.

Adz-Dzahabi, al-Mughni fi ad-Dhu‘afa’, juz 2 hal. 383, no. 6056. 

Al-Khathib al-Baghdadi, Tarikh Madinat al-Salam, jil. 4 hal. 565, no. 1728. 

Basyar ‘Awad Ma‘ruf dan Syu‘aib al-Arnauth, Tahrir Taqrib al-Tahdzib, juz 4 hal. 125 no. 7815.

Al-Khathib al-Baghdadi, Tarikh Madinat al-Salam, jil. 4 hal. 565, no. 1728. 

Dhiya‘uddin al-Maqdisi, an-Nahyu ‘An Sabb al-Ashhab wa Ma Fiha min al-Itsm wa al-‘Iqab, hal. 86-88, no. 34.

Adz-Dzahabi, al-Mughni fi ad-Dhu‘afa’, juz 2 hal. 383, no. 6056. 

Ibnu al-Jauzi, ad-Dhu‘afa’ wa al-Matrukin, juz 3 hal. 106 no. 3226.

Basyar ‘Awad Ma‘ruf dan Syu‘aib al-Arnauth, Tahrir Taqrib al-Tahdzib, juz 4 hal. 125 no. 7815.

Ibnu ‘Asakir, Tarikh Madinat Dimasyq, juz 14 hal. 28. 

Ibnu al-Jauzi, ad-Dhu‘afa’ wa al-Matrukin, juz 3 hal. 106 no. 3226.

Dhiya‘uddin al-Maqdisi, an-Nahyu ‘An Sabb al-Ashhab wa Ma Fiha min al-Itsm wa al-‘Iqab, hal. 86-88, no. 34.

Ibnu ‘Asakir, Tarikh Madinat Dimasyq, juz 14 hal. 28.